Halaman

Rabu, 25 April 2012

KONSEP DASAR HERNIA


HERNIA

A.          PENGERTIAN
     Hernia, atau yang lebih dikenal dengan turun berok, adalah penyakit akibat turunnya buah zakar seiring melemahnya lapisan otot dinding perut. Penderita hernia, memang kebanyakan laki-laki, terutama anak-anak. Kebanyakan penderitanya akan merasakan nyeri, jika terjadi infeksi di dalamnya, misalnya, jika anak-anak penderitanya terlalu aktif(6).
   Berasal dari bahasa Latin, herniae, yaitu menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus(6).
     Adalah suatu benjolan/penonjolan isi perut dari rongga normal melalui lubang kongenital atau didapat(1).
     Adalah penonjolan usus melalui lubang abdomen atau lemahnya area dinding abdomen(3).
     Is the abnormal protrusion of an organ, tissue, of part of an organ through the structure that normally cotains it (1).
     Hernia adalah penonjolan abnormal dari jaringan atau organ intra abdominal (sebagain atau seluruhnya) melalui lubang atau defek dinding abdomen.
     Penyakit hernia sebenar-nya bisa juga ditularkan melalui makanan dan minuman.
     Hernia yang terjadi pada anak-anak, lebih disebabkan karena kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Sementara pada orang dewasa, karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan karena faktor usia yang menyebabkan lemahnya otot dinding perut(6).

B. ETIOLOGI
·        Hernia bawaan (kongenital)
·        Hernia yang didapat (akuisita)
Hernia dapat terjadi karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, atau akibat tekanan rongga perut yang meninggi (2).

C. KLASIFIKASI
1.    Menurut/tofografinya :
a.   Hernia inguinalis,
Menonjolnya organ perut kedalam rongga dada melalui lubang pada diafragma (sekat yang membatasi rongga dada dan rongga perut).
·        Indirek : batang usus melewati cincin abdomen dan mengikuti aluran spermamasuk ke dalam kanalis inguinalis
·        Direk : batang usus melewati dinding inguinalis bagian posterior 
b.   Hernia Diafragma
Hernia yang melalui diafragma
c.   Hernia Femoralis
Batang usus melewati femoral ke bawah ke dalam kanalis femoralis
d.   Hernia Scrotalis
Batang usus yang masuk ke dalam kantong skrotum
e.   hernia umbilikalis,
Batang usus melewati cincin umbilical
f.   hernia femoralis

2.   Menurut keadaan / sifatnya
a.    Hernia Reponibel
Bila isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika mengedan, dan masuk jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri/gejala
b.    Hernia Ireponibel
Bila kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga, ini disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneal
c.    Hernia Inkaserada/Hernia Stragulata
Isi hernia terjepit oleh cincin hernia/terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut.  Terdapat tanda obstruktif, sperti tidak bisa buang air besar, tidak bisa buang angin dan terdapat nyeri
d.    Hernia trangulata : bila terdapat keluhan nyeri, biasanya karena terjepitnya pembuluh darah
e.    Hernia akreta ; jika tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus akibat perlekatan tersebut.

3.   Urut isinya : hernia usus halus, hernia omentum, dan sebagainya.
4.   Menurut terlibat/tidaknya : hernia eksterna (hernia ingunalis, hernia serofalis dan sebagainya).  Hernia inferna tidak terlihat dari luar (hernia diafragmatika, hernia foramen winslowi, hernia obturatoria).
5.   Causanya : hernia congenital, hernia traumatika, hernia visional dan sebagainya.
6.   Nama penemunya :
a.   H. Petit (di daerah lumbosakral)
b.   H. Spigelli (terjadi pada lenea semi sirkularis) di atas penyilangan rasa epigastrika inferior pada muskulus rektus abdominis bagian lateral.
c.   H. Richter : yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang terjepit.
f.     Beberapa hernia lainnya :
a.   H. Pantrolan adalah hernia inguinalis dan hernia femoralis yang terjadi pada satu sisi dan dibatasi oleh rasa epigastrika inferior.
b.   H. Skrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke skrotum secara lengkap.
c.   H. Littre adalah hernia yang isinya adalah divertikulum Meckeli.

D.TANDA DAN GEJALA
     Umumnya penderita menyatakan turun berok, burut atau kelingsir atau menyatakan adanya benjolan di selakanganya/kemaluan.bnjolan itu bisa mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan waktu defekasi/miksi, mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
     Pemeriksaan diameter anulus inguinalis

F. PENATALAKSANAAN(2)
a.   Pada hernia inguinalis lateralis reponibilis maka dilakukan tindakan bedah efektif karena ditakutkan terjadi komplikasi.
b.   Pada yang ireponibilis, maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali. Pasien istirahat baring dan dipuasakan atau mendapat diit halus. Dilakukan tekanan yang kontinyu pada benjolan misalnya dengan bantal pasir. Baik juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan. Lakukan usaha ini berulang-ulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan bedah efektif di kemudian hari atau menjadi inkarserasi.
c.   Pada inkerserasi dan strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat.

     Tindakan bedah pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia dan herniorafi (menjahit kantong hernia). Pada bedah efektif manalis dibuka, isi hernia dimasukkan,kantong diikat dan dilakukan “bassin plasty” untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
     Pada bedah darurat, maka prinsipnya seperti bedah efektif. Cincin hernia langsung dicari dan dipotong. Usus dilihat apakah vital/tidak. Bila tidak dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan anastomois “end to end”.

G.DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL (3)
1.    Nyeri (khususnya dengan mengedan) yang berhubungan dengan kondisi hernia atau intervensi pembedahan.
·        Hasil yang diharapkan : dalam 1 jam intervensi, persepsi subjektif klien tentang ketidaknyamanan menurun seperti ditunjukkan skala nyeri.
·        Indikator objektif seperti meringis tidak ada/menurun.
·        Intervensi:
a.   Kaji dan catat nyeri
b.   Beritahu pasien untuk menghindari mengejan, meregang, batuk dan mengangkat benda yang berat.
c.   Ajarkan bagaimana bila menggunakan dekker (bila diprogramkan).
d.   Ajarkan pasien pemasangan penyokong skrotum/kompres es yang sering diprogramkan untuk membatasi edema dan mengendalikan nyeri.
e.   Berikan analgesik sesuai program.
2.   Retensi urine (resiko terhadap hal yang sama) yang berhubungan dengan nyeri, trauma dan penggunaan anestetik selama pembedahan abdomen.
·        Hasil yang diharapkan : dalam 8-10 jam pembedahan, pasien berkemih tanpa kesulitan. Haluaran urine ³ 100 ml selama setiap berkemih dan adekuat (kira-kira 1000-1500 ml) selama periode 24 jam.
·        Intervensi:
a.   Kaji dan catat distensi suprapubik atau keluhan pasien tidak dapat berkemih.
b.   Pantau haluarna urine. Catat dan laporkan berkemih yang sering <>
c.   Permudah berkemih dengan mengimplementasikan : pada posisi normal untuk berkemih rangsang pasien dengan mendengar air mengalir/tempatkan pada baskom hangat.
3.   Kurang pengetahuan : potensial komplikasi GI yang berkenaan dengan adanya hernia dan tindakan yang dapat mencegah kekambuhan mereka.
·        Hasil yang diperkirakan : setelah instruksi, pasien mengungkapkan pengetahuan tentang tanda dan gejala komplikasi GI dan menjalankan tindakan yang diprogramkan oleh pencegahan.
·        Intervensi:
a.   Ajarkan pasien untuk waspada dan melaporkan nyeri berat, menetap, mual dan muntah, demam dan distensi abdomen, yang dapat memperberat awitan inkarserasi/strangulasi usus.
b.   Dorong pasien untuk mengikuti regumen medis : penggunaan dekker atau penyokong lainnya dan menghindari mengejan meregang, konstipasi dan mengangkat benda yang berat.
c.   Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi diit tinggi residu atau menggunakan suplement diet serat untuk mencegah konstipasi, anjurkan masukan cairan sedikitnya 2-3 l/hari untuk meningkatkan konsistensi feses lunak.
d.   Beritahu pasien mekanika tubuh yang tepat untuk bergerak dan mengangkat.





DAFTAR PUSTAKA
1. Core Principle and Practice of Medical Surgical Nursing. Ledmann’s.
2. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi II. Medica Aesculaplus FK UI. 1998.
3. Keperawatan Medikal Bedah. Swearingen. Edisi II. EGC. 2001.
4. Keperawatan Medikal Bedah. Charlene J. Reeves, Bayle Roux, Robin Lockhart. Penerjemah Joko Setyono. Penerbit Salemba Media. Edisi I. 2002.
5. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf Pengajar UI. FK UI.

2 komentar: